BADUNG — Usaha pembibitan lele sangkuriang yang digeluti I Nyoman Miasa (35) di Banjar Panglan Delodan, Kelurahan Kapal, Kecamatan Mengwi, kini menjadi sumber penghasilan utama setelah ia memutuskan berhenti total dari profesinya sebagai pengukir kayu. Pria kelahiran 1989 itu mengaku memilih varietas sangkuriang karena postur tubuhnya lebih panjang dan daya tahan terhadap penyakit lebih kuat.
Ketertarikan Miasa pada budi daya lele berawal pada 2012. Saat itu, ia hanya mencoba peruntungan dengan membesarkan 3.000 ekor lele. Seiring berjalannya waktu, ia memutuskan fokus memproduksi bibit sendiri dengan modal awal Rp 17 juta.
Dengan modal belasan juta rupiah, Miasa membangun empat kolam sederhana yang mampu menampung produksi awal sekitar 70 ribu bibit. Indukan kualitas unggul ia dapatkan melalui bantuan rekannya yang mendatangkan langsung dari Jawa Barat.
Kini, Miasa mengelola 10 kolam aktif dengan daya tampung berkisar 40 ribu hingga 50 ribu ekor bibit per kolam, atau total keseluruhan mencapai 315 ribu bibit. Dari kapasitas itu, ia mampu menyuplai kebutuhan pembudi daya pembesaran di berbagai wilayah Bali.
"Pasar mencakup hampir seluruh di Bali, dari Badung, Gianyar, Klungkung, sampai Singaraja dan Tabanan. Setiap bulannya itu mampu kami penuhi di 160 ribu bibit," tutur Miasa saat ditemui di lokasi budidayanya, Minggu (9/8/2026).
Penjualan bibit lele milik Miasa dihitung berdasarkan ukuran panjang per ekor, mulai dari ukuran 4 sentimeter (cm) hingga 9 cm. Harga yang dipatok menerapkan kelipatan Rp 50 per cm, dimulai dari harga dasar Rp 200 untuk ukuran 4 cm.
Kesuksesan ini tidak diraih tanpa hambatan. Pada masa awal coba-coba, Miasa sempat gagal lantaran belum banyak pengalaman. Proses belajar yang ia jalani secara autodidak membuatnya harus beradaptasi dengan berbagai tantangan, terutama ancaman penyakit musiman.
Usaha pembibitan lele milik Miasa tak lepas dari ancaman penyakit seperti moncong putih dan munting. Serangan penyakit kulit dan kumis keriting tersebut biasanya marak muncul saat cuaca panas ekstrem.
"Biasa moncong putih itu biasanya diawali kumisnya keriting, terus mulutnya kemerah-merahan. Biasanya pas musim cuaca panas sekali," beber Miasa.
Selain faktor penyakit, perubahan kualitas air kolam saat musim hujan dan cuaca dingin pancaroba juga menjadi kendala. Tingkat keasaman (pH) air yang tidak stabil menuntut perawatan ekstra agar suhu kolam tetap terjaga.
"Pengontrolan airnya enggak boleh terlalu hijau pekat, setiap 5 hari sekali kuras 50% tambah air sumur baru," terangnya.
Tantangan lain datang dari melonjaknya harga pakan pelet pabrikan dan cacing sutra di pasaran. Kenaikan harga pakan sekitar Rp 10-15 ribu secara otomatis mendongkrak biaya operasional bulanan.
Untuk konsumsi bibit usia 0 hingga 20 hari, Miasa mengandalkan pakan alami berupa cacing sutra yang harganya kini naik menjadi Rp 10.000 per mangkuk. Total pengeluaran pakan dalam sebulan bisa mencapai puluhan juta rupiah.
"Bulan kemarin saya habis Rp 8,7 juta untuk beli cacing sutra, terus peletnya habis Rp 15 juta. Per hari menghabiskan pakan 15 kilogram," terang Miasa.